Perempuanku mempunyai mata yang indah. Dari awal jumpa, matanya lah yang pertama menyihirku, selain bibir berlipstik pink tentunya. Situasi itu masih terekam jelas di benakku, ketika pertama jumpa dengannya, satu tahun yang lalu: 18-10-2009.
Kami bertemu pertama kali sebagai teman setelah beberapa kali chat via ym alias copdar. Berangkat dengan penampilan seadanya, aku celingak celinguk mencari sosok yang telah kulihat di foto di tempat kita janjian. Tidak satupun yang cocok terlihat dari pandanganku yang menyapu. Kurogoh hp di saku kanan "kamu dimana?" Belum sempat aku memencet tombol send terlihat pesan baru, langsung aku check "Aku sedang duduk di bangku taman di depan plaza"
Dengan langkah berani seperti biasanya, aku mengayunkan kaki. Benakku dipenuhi sesosok wanita gagah dan menyeramkan yang akan kutemui. Sempat terfikir ' ya tuhan...kenapa aku harus bertemu dengan orang asing yang menyeramkan, andai saja aku tidak terlanjur berjanji, mungkin aku tidak akan pergi ke tempat ini menemuinya'. Lalu sosok teman itu muncul, berdiri mengulurkan tangan 'hai!' dengan senyum manis. Aku mengulurkan tangan, kami bersalaman "Hai, maaf! jadi lama menunggu ya?" ucapku sembari memberikan senyum ramah seperti bertemu teman lainnya. "Tidak apa-apa, kita langsung kesana yuk!" Dia memberi isyarat untuk bergerak menuju ke sebuah restoran cepat saji. "Yuk!"
Ow! Ow! Ow! Dia tidak se-menyeramkan yang aku bayangkan, malah terlihat, uhm...manis? Aku tersenyum geli di dalam hati. Aku menangkap aura yang hangat dari sosoknya. Aku bersemangat, seperti semangat seorang anak kecil yang baru dibelikan sepeda . Bersama, kami melangkah menuju restoran tersebut tanpa menghentikan obrolan perkenalan.
Cerita demi cerita mengalir mengisi makan siang kami. Berbagi informasi sampai curhat tiada henti bernyanyi. Aku antusias bercerita dan mendengarkan. Entah karna efek kopi yang kuminum, atau karna semangat pertemananku plus karena aku memang suka dengan cerita, aku tak tahu. Yang jelas, aku antusias!
Dia bercerita mengenai hubungannya yang terancam gagal, aku menyimak dan memberi saran. Ketika giliranku bercerita mengenai kehidupanku, dia juga diam mendengarkan dengan tatapan yang lama dan dalam? Ya, aku merasakan tatapan yang dalam. Tidak tahu apa yang dia pikirkan dan nilai mengenai diri ini. Ketika dia menatap, aku juga balik menatap menandakan kalau aku tidak mau 'keder' dengan tatapannya sekalian agar dia tidak menatapku lama dan terlihat menilai seperti itu. Tapi diam-diam aku menikamati tatapan itu. Tatapan yang mengandung aliran aliran aneh dari kedua bola mata yang indah. Hatiku kerap tersenyum ketika bersamanya, walaupun itu baru pertemuan pertama, aku bisa menilai kalau dia gadis yang cukup baik dan asik diajak ngobrol plus dengan tatapan-tatapan yang...memberi perasaan aneh.
Pertemuan kami berakhir manis dengan sepotong coklat yang dia belikan untukku. Aku tidak dapat mengelak kalau aku tertarik padanya setelah sekian lama tidak ada seorangpun yang menarik perhatianku. Sampai aku menulis status di fb " you are more sweet than the cocholate you gave"
Hari-hari berganti, kami tetap terhubung melalui sms dan berlanjut telpon. Pas pada saat hubungannya berakhir dengan kekasih wanita alias gf-nya. Dia menyatakan keinginannya untuk menjadikanku sebagai pacar. Awalnya aku menolak, walaupun aku juga suka dan di dalam hati bertiak 'wow! again! i don't have to shoot the one that i like because they always like me as i do', namun batasan-batasan yang telah tertancap di benakku tidak ingin kulanggar. Pada akhirnya perasaanlah yang berbicara, Ketika dia menelponku, dan menanyakan kembali keinginannya aku menjawab ragu-ragu 'let's try!'
Dari sanalah hubungan yang didasari suka sama suka ini berawal, satu tahun yang kami lewati dengan bunga-bunga yang tumbuh bersemi dan berguguran sesuai musim di hati. Sampai sore tadi kami bertemu, aku masih merasakan keindahan tatapan wanitaku yang membuat hatiku berdendang ingin mengecup sepasang bola mata indah di wajahnya. Tatapan yang masih saja menyihirku, memberikan sensasi manis pada mata yang memandang. Kalau dia memperhatikan, dia pasti akan menyadari kalau setiap pertemuan kami, aku selalu ingin berhadapan dengannya. Menatap mata itu.